LiFi, Teknologi Penerus WiFi

Teknologi WiFi telah hadir sejak tahun 1999. Hampir di seluruh tempat dapat ditemukan jaringan WiFi. Orang akan dengan mudah terhubung ke internet hanya dengan melakukan koneksi ke jaringan Wi-Fi. Saat ini, sedang dilakukan eksperimen pengembangan teknologi baru penerus WiFi, yaitu LiFi. LiFi dikabarkan memiliki kecepatan 10 kali lebih cepat dibandingkan dengan WiFi.

Li-Fi, Teknologi Penerus Wi-Fi

Li-Fi sendiri merupakan akronim dari Light Fidelity yaitu sebuah jaringan nirkabel untuk sistem komunikasi yang menggunakan cahaya sebagai medianya. Dan teknologi ini tidak lagi memakai frekuensi radio konvensional pada Wi-Fi. Teknologi yang bisa mentransfer data hingga 100 Gbps ini telah  sukses didemonstrasikan pada sepasang smartphone Casio di Consumer Electronics Show tahun 2012 di Las Vegas.

Salah satu startup yang telah mencoba menerapkan teknologi ini adalah Velmenni. Mereka menguji teknologi nirkabel Li-Fi pada kantor mereka yang terletak di Tallinn, ibukota Estonia. Teknologi Li-Fi yang digunakan oleh Velmenni dapat mengirimkan data dengan kecepatan yang sangat tinggi, yakni mencapai 100 Gbps atau 100 kali lebih cepat jika dibandingkan dengan teknologi nirkabel Wi-Fi yang memiliki kecepatan maksimum 600 megabit per detik. Dengan kecepatan tinggi itulah, Anda dapat mendownload film beresolusi tinggi hanya butuh waktu hitungan detik saja.

Li-Fi, Teknologi Penerus Wi-Fi

Teknologi Li-Fi sendiri sebelumnya ditemukan oleh Profesor Harald Haas dari University of Ediburgh, ia memulai penelitian teknologi ini dari tahun 2011 lalu. Ia menjelaskan bahwa teknologi Li-Fi dapat diterapkan dalam lampu LED dan dapat menggantikan teknologi Wi-Fi yang ada saat ini. Ia juga menambahkan bahwa infrastruktur yang ada saat ini sudah bisa diintegrasikan dengan teknologi Li-Fi.

Baca Juga:  Mengenal Jenis Partisi MBR

Untuk membuat Li-Fi ini bekerja, Anda membutuhkan dua sumber cahaya yang berada pada masing-masing ujung perangkat. Sumber cahaya yang bisa digunakan yaitu LED atau detektor foto (Light Sensor). Saat cahaya LED menyala, cahaya sensor pada ujung perangkat lainnya akan mendeteksinya dan mengartikannya sebagai biner 1.

Li-Fi, Teknologi Penerus Wi-Fi

Lalu seperti apa sebuah data dapat dikirimkan dengan teknologi Li-Fi ini? Dalam jumlah cahaya LED tertentu tadi, sebuah pesan akan dapat dikirimkan dan kemudian ditangkap oleh detektor cahaya pada perangkat lainnya.

Selanjutnya teknologi Li-Fi ini akan memakai beberapa warna pada cahaya LED. Jika warna-warna ini menyala bersama-sama maka hal ini akan menciptakan bangunan informasi yang sangat besar untuk dikirimkan secara sekaligus.

Saat ini saja hanya dengan penggunaan laser warna hijau dan laser warna merah dengan bersamaan sebuah data bisa terkirim pada kecepatan 1 Gbps. Bagaimana jika teknologi ini menggunakan banyak warna? Tentu saja kecepatannya akan mencapai berkali-kali lipat.

Li-Fi yang memiliki kecepatan data berkali-kali lipat dibandingkan dengan Wi-Fi ini disebabkan karena jenis LED yang merupakan semikonduktor punya sifat berbeda dari jenis lampu lain. Dengan sifat dan ciri-ciri seperti ini membuat LED mampu untuk beralih on dan off dalam beberapa nanodetik atau miliar detik.

Nanodetik ini jika dikonversikan dalam kecepatan data setara dengan 1 Gbits/s. Maka dari itu saat Wi-Fi hanya bisa mencapai 100 Mbits/s kecepatan data, maka ini artinya Li-Fi memiliki kecepatan 10 kali lebih cepat dari Wi-Fi.

Baca Juga:  Notebook, atau Netbook?

Keuntungan menggunakan Li-Fi ini adalah memudahkan siapa saja untuk mengakses internet dimana pun bahkan di wilayah terpencil sekalipun yang tidak bisa dijangkau oleh kabel optik. Selain itu Li-Fi juga dapat digunakan mengontrol kondisi lalu lintas dengan cara menempatkan teknologi baru ini ke LED mobil.

Fungsi yang sama ternyata juga dapat diterapkan dengan lampu overhead pesawat. Keunggulan lain dari teknologi Li-Fi adalah mampu mengurangi polusi elektromagnetik yang dihasilkan oleh gelombang radio.

Namun, Li-Fi memiliki kelemahan dibanding metode Wi-Fi konvensional. Meski diterapkan melalui semacam base station yang ditempel di langit-langit ruangan, Li-Fi membutuhkan direct line of sight alias “pandangan” langsung ke perangkat tujuan yang dilengkapi receiver khusus, layaknya koneksi infra red pada gadget jadul.

Selain itu, perangkat tujuan pun harus stasioner alias tidak boleh dipindah-pindahkan. Tim peneliti sedang mengembangkan cara untuk membuat sistem penjejak yang memungkinkan base station Li-Fi melacak posisi perangkat di dalam ruangan dan membuat sambungan.

Karena belum praktis, untuk sekarang mungkin Li-Fi masih tak bisa menggantikan Wi-Fi. Namun, dengan kecepatan potensial mencapai lebih dari 3 terabit, para penciptanya berharap teknologi ini nantinya bisa dimanfaatkan untuk aplikasi lain.

Jika teknologi ini benar-benar telah diterapkan, maka untuk mendapatkan akses internet tak terkendala lagi masalah dari faktor cuaca buruk. Terlebih setiap rumah atau gedung memiliki lampu sebagai sumber pencahayaan, dengan demikian setiap rumah atau gedung dapat memiliki akses internet masing-masing dengan kecepatan akses yang sangat tinggi.

Baca Juga:  Pengertian dan Fungsi Printer, Mulai dari yang Jadul Hingga Modern

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *